LANDASAN PSIKOLOGIS DALAM KONSELING


 

A.    Motif dan Motivasi

a.      Motif

Ada beberapa pendapat mengenai pengertian motif. Motif, atau dalam bahasa Inggris “motive” berasal dari kata movere atau motion, yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak. dalam psikologis, istilah motif erat hubungannya dengan “gerak”, yaitu gerakan yang dilakukan oleh manusia atau disebut juga perbuatan atau perilaku.

Menurut Sherif & Sherif dalam Alex Sobur menyebut motif sebagai suatu istilah generik yang meliputi semua faktor internal yang mengarah pada berbagai jenis perilaku yang bertujuan, semua pengaruh internal, seperti kebutuhan (needs) yang berasal dari fungsi-fungsi organisme, dorongan dan keinginan, aspirasi dan selera sosial, yang bersumber dari fungsi-fungsi tersebut.

R. S. Woodworth dalam Alex Sobur mengartikan motif sebagai suatu set yang dapat atau mudah menyebabkan individu untuk melakukan kegiatankegiatan tertentu (berbuat sesuatu) dan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa motif itu adalah dorongan yang menyebabkan individu untuk melakukan suatu gerakan atau tingkah laku tertentu untuk mencapai suatu tujuan.

b.      Motivasi

Sebenarnya, motivasi merupakan istilah yang lebih umum yang menunjuk pada proses gerakan, termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbul dalam diri individu, tingkah laku yang menimbulkannya, dan tujuan atau akhir dari gerakan atau perbuatan. Karena itu, bisa juga dikatakan bahwa motivasi berarti membangkitkan motif, membangkitkan daya gerak, atau mengerakkan seseorang atau diri sendiri untuk berbuat sesuatu dalam rangka mencapai suatu kepuasan atau tujuan.

Menurut M. Utsman Najati dalam Abdul Rahman Shaleh, motivasi adalah kekuatan penggerak yang membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup, dan menimbulkan tingkah laku serta mengarahkannya menuju tujuan tertentu.

Pendapat yang sama juga dikatan oleh Hoy dan Miskel dalam Abdul Rahman shaleh, dimana motivasi adalah kekuatan-kekuatan yang kompleks, dorongandorongan, kebutuhan-kebutuhan, pernyataan-pernyataan, ketegangan (tension states), atau mekanisme-mekanisme lainnya yang memulai dan menjaga kegiatan-kegiatan yang diinginkan ke arah pencapaian tujuan-tujuan personal.

Motif dan motivasi berkaitan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku, baik motif primer maupun motif sekunder. Motif primer adalah motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir, seperti rasa lapar, bernafas, dan sejenisnya. Sedangkan motif sekunder adalah motif yang terbentuk dari hasil belajar seperti rekreasi, memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu, dan sejenisnya. Selanjutnya motif-motif tersebut diaktifkan dan digerakkan baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik), menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. Oleh karena itu, pelaksana layanan bimbingan dan konseling diwajibkan dapat memahami motif dan motivasi seseorang.

B.     Kepribadian dan pengaruh pembawaan dasar dan lingkungan

a.      Kepribadian

Kepribadian (personality) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain, integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendirian, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang, segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain. Kepribadian yang sudah matang akhirnya menjadi karakteristik kepribadian (trait), yaitu dapat bersumber dari bakat, kemampuan, sifat yang secara konsisten diperagakan oleh seseorang, termasuk pola perilaku, sifat fisik, dan ciri kepribadian (Sjarkawi, 2009). Kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir.

Abin Syamsudin (dalam Sutirna, 2013) mengemukakan tentang aspekaspek kepribadian, mencakup:

1)      Karakter: yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsisten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat

2)      Temperamen: yaitu disposisi reaktif seseorang, atau cepat lambatnya mereaksi rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan

3)      Sikap: sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif, atau ambivalen.

4)      Stabilitas emosi: yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan, seperti mudah tidaknya tersinggung, sedih atau putus asa.

5)      Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan, seperti mau menerima risiko secara wajar, cuci tangan, atau menghindar dari risiko yang dihadapi.

6)      Sosiabilitas: yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal, seperti sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.

b.      Pembawaan dan lingkungan

Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan yang mencakup aspek psiko-fisik, seperti struktur otot, warna kulit, golongan darah, bakat, kecerdasan, atau ciri-ciri kepribadian tertentu.

Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan. Untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. Schopenhaver dengan aliran Nativismenya mengatakan bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh faktor bawaan atau hereditas. Kemudian John Locke dengan aliran Empirismenya mengatakan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor lingkungan (dalam hal ini diperlukan pendidikan). Timbullah aliran Konvergensi yang dipelopori oleh William Stern yang menyatakan bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh faktor bawaan dan lingkungan. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. Misalnya saja dalam hal kecerdasan, ada yang di atas rata-rata (jenius), rata-rata atau bahkan di bawah rata-rata (debil, imbisil atau idiot). Demikian pula dengan lingkungan, ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan saran dan prasarana yang memadai sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. Namun, adapula individu yang dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan saran dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik dan menjadi tersia-siakan. Pembawaan dan lingkungan akan sangat mempengaruhi dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling, baik itu dilaksanakan oleh guru BK dan guru mata pelajaran di saat proses belajar mengajar

C.    Belajar dan penguatan

a.      Belajar

Belajar merupakan salah satu konsep psikologi yang sangat mendasar. Manusia belajar untuk hidup. Tanpa belajar, seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. Dengan belajar, manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Penguasaan yang baru itu adalah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itu merupakan tandatanda perkembangan, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor/keterampilan. Agar terjadi proses belajar diperlukan prasyarat belajar, baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan ataupun hasil belajar sebelumnya.

Belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahanperubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup manusia tidak lain adalah hasil dari belajar. Belajar itu bukan sekedar pengalaman. Belajar adalah suatu proses, dan bukan suatu hasil.

Dari keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar merupakan kegiatan inti. Karena belajar merupakan suatu aktivitas mental atau psikis berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman keterampilan, nilai dan sikap perbuatan belajar dapat menimbulkan berbagai masalah baik yang berhubungan dengan peserta didik yang belajar maupun guru sebagai pengajar. Hal ini berarti proses belajar mengajar bagi peserta didik masing-masing memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut terjadi karena beberapa alasan seperti perbedaan cara menerima atau menangkap pelajaran yang disebabkan berbedanya tingkat IQ, EQ dan ESQ masing-masing individu. Hal tersebut sangat berpengaruh bagi peserta didik yang sama-sama dalam belajar atau menuntut ilmu pada lingkungan atau lembaga pendidikan yang sama. Oleh karena itu, sekolah atau lembaga pendidikan mempunyai tanggung jawab yang besar agar peserta didik dapat belajar dengan cara membantu mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam kegiatan belajar. Disinilah letak pentingnya program layanan bimbingan dan konseling untuk membantu peserta didik agar mereka dapat berhasil dalam belajar dengan hasil yang memuaskan.

b.      Penguatan

Istilah penguatan (reinforcement) berasal dari Skinner, salah seorang ahli psikologi belajar behavioristik. Mengartikan reinforcement ini sebagai setiap konsekuensi atau dampak tingkah laku yang memperkuat tingkah laku tertentu.

Penguatan adalah respon positif dalam pembelajaran yang diberikan guru terhadap perilaku peserta didik yang positif dengan tujuan mempertahankan dan meningkatkan perilaku tersebut. Penguatan merupakan respon terhadap suatu tingkah laku yang sengaja diberikan agar tingkah laku tersebut dapat terulang kembali. Penguatan yang diberikan oleh guru merupakan hal yang sangat penting bagi peserta didik.

Menurut Moh. Uzer Usman penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respon, apakah bersifat verbal ataupun nonverbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik bagi si penerima (siswa) atas perbuatannya sebagai suatu tindakan dorongan ataupun koreksi. Penguatan dikatakan juga sebagai respon terhadap tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya tingkah laku tersebut. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mengganjar atau membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi untuk interaksi dalam belajar mengajar.

Penguatan mempunyai pengaruh yang berupa sikap positif terhadap proses belajar siswa dan bertujuan sebagai berikut :

1)      Meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran.

2)      Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar.

3)      Meningkatkan kegiatan belajar dan membina tingkah laku siswa yang produktif.

D.    Perkembangan individu

Perkembangan individu berkaitan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang berlangsung sejak masa konsepsi (prenatal) hingga akhir hayatnya, tidak ada yang sama satu dengan lainnya. Perkembangan tersebut meliputi aspek fisik dan psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan sosial. Dalam menjalani tugas-tugasnya, seorang guru BK harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya. Guru BK juga harus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan, serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. Dengan kata lain, layanan pemberian bimbingan dan konseling setiap peserta didik berbeda-beda.

Sekolah merupakan salah satu bentuk lingkungan yang bertanggung jawab dalam memberikan asuhan terhadap proses perkembangan individu. Dalam memasuki dunia kedewasaan perlu persiapan yang matang dalam berbagai segi intelektual, emosional, sosial dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Layanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan satu-satunya wadah yang dapat membantu para peserta didik untuk menyelesaikan masa-masa transisi dan tugas-tugas perkembangannya bagi setiap individu. Prinsip-prinsip perkembangan yang harus diperhatikan diantaranya adalah:

1)      Hasil proses belajar tergantung pada tingkat kematangan individu

2)      Perkembangan berlangsung pada permulaan

3)      Setiap individu memiliki waktu pertentangan

4)      Perkembangan individu mengikuti pola umum

5)      Faktor pembawaan dan lingkungan berpengaruh terhadap proses perkembangan individu

Berdasarkan lima macam prinsip-prinsip perkembangan individu di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan setiap individu memiliki waktu yang berlangsung pada tahun-tahun permulaan yang mengikuti pola umum, disamping faktor-faktor pembawaan dan lingkungan juga tercermin pada hasil proses belajar peserta didik yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan tingkat kematangan individu. Di samping prinsip-prinsip perkembangan, tugastugas perkembangan bagi setiap individu perlu mendapat perhatian sepenuhnya dalam hubungannya dengan masalah perkembangan individu. Hurlock (1990) dalam konsepsi tentang tugas-tugas perkembangan memaparkan bahwa tugastugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar periode tertentu dari kehidupan individu yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi jikalau gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya.

Kedua hal tersebut di atas baik yang berhubungan dengan prinsipprinsip perkembangan maupun tugas-tugas perkembangan bagi setiap individu hendaknya menjadi perhatian yang serius dalam melaksanakan layanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik agar perkembangan setiap individu lebih terarah dan sempurna.

 

Referensi:

Daulay, N. (2019) Urgensi Landasan Psikologi Dalam Pelaksanaan Bimbingan Dan Konseling Di Era Globalisasi. Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan Dan Konseling. UIN Sumatera Utara.

Ulfiah. (2020). Psikologi Konseling: Teori Dan Implementasi. Jakarta: Kencana.

Komentar

Postingan Populer